Monday, October 18, 2010

sepi tanpa bicara

Malam ini aku merepek lagi menukilkan kata kata penganti bicara sepi.
Madah berkias pujangga, pantas jari menekan kekunci menyusun indah bait bait puisi kehidupan hari ini.
Tarian jari di papan kekunci melakarkan susunan kisah yang telah berlalu pergi.

Aku merenung di luar jendela kehidupan, redup rembulan mengambang umpama nyalaan pelita. Kemalapan seakan hampir kehabisan sumbu adanya.
Ahh, malam ini tiada bintang yang menemani rembulan. Cuma berselubungkan awan.
Tiada yang menarik, tiada yang memukau hati.
Aku beralih arah….

Memandang pada lampu neon di bawah, kelihatan bertenaga dan gembira ditemani hidupan kecil bergentayangan.
Menari tari metafora kehidupan. Berkejaran.
Ceria. Aku sedikit terhibur…

Tiba tiba, aku disapa bayu malam yang suram. Nyaman.
Ku pejam mata pekakkan telinga bisukan bicara.
Masih tetap kedengaran desah resah bayu yang menyapa. Pilu.
Ku menggapai pintu hati.
Perlahan lahan, kaki melangkah masuk ke kotak ingatan. Berjalan mengelilingi danau kenangan.
Kejauhan ku terpandang sebatang pohon memori dipenuhi dedaun nostalgia yang merimbun tinggi.
Helaian nostalgia yang jatuh kucantumi satu persatu menjadi hamparan permaidani.
Mengimbau semua apa yang terjadi. Sebagai panduan untuk aku di kemudian hari.

Ku memerhati permaidani kehidupan. Ada kisah sedih, ada kisah gembira, ada kisah suram.
Bila sedih aku berduka. Bila gembira aku ketawa. Bila suram aku berdurja.
Banyak berduka dari ketawa. Banyak berdurja dari berduka.
Itulah permaidani kehidupan. Ada pasang surut. Ada naik turun.
Macam forex.

Ku bukakan mata tajamkan minda kuatkan bicara.
Kumelepaskan semua dengan satu keluhan.
Agar dapat dihayati oleh semua insan.
Sebagai sebuah metafora kehidupan di pentas dunia yang semakin kejam.

4 comments: